Selasa, 01 Oktober 2019


MAKALAH STUDI AL QUR’AN
MUKJIZAT AL-QUR’AN



Dosen Pengampu:
1)      Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
2)      Ati’ Nursyafa’ah, M. Kom. I



DISUSUN OLEH :
Silvia Arma Affidatus Syukriya
NIM: B75219077

ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2019

KATA PENGANTAR
            Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur  kepada kepada dengan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabat beliau.
            Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Al-Quran. Seperti  diketahui bersama, Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam tidak pernh habis dibicarakan dari berbagai segi. Karena itu, dalam makalh ini akan dibahas tentang mukjizat Al-Quran.
            Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata kuliah Studi Al-Quran dan Ati’ Nursyafa’ah M. Kom.I selaku asisten dosen yang telah membantu selama proses pembuatan makalah ini.
            Saya tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan didalamnya. Untuk itu, saya mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nanti menjadi makalah yang lebih baik lagi.

                                                Surabaya, Agustus 2019

                                                            Silvia Arma
Daftar Isi
Kata Pengantar..................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................. ii
Bab 1.................................................................................... 1
Pendahuluan......................................................................... 1
Pengertian Mukjizat Al Qur’an............................................ 2
Bab 2.................................................................................... 9
Ukuran Kemukjizatan Al-Qur’an......................................... 9
Bab 3.................................................................................... 17
Keistimewaan Al Qur’an dibanding mukjizat ..................... 17
Bab 4.................................................................................... 22
Kesimpulan........................................................................... 22
Daftar Pustaka...................................................................... 23

BAB 1

Pendahuluan
Alam yang luas dan dipenuhi makhluk-makhluk Allah ini; gunung gunungnya yang menjulang tinggi, samuderanya yang melimpah, dan daratannya yang menghampar luas, menjadi kecil dihadapan makhluk lemah, yaitu manusia. Itu semua disebabkan Allah telah menganugerahkan kepada makhluk manusiaini beragai keistimewaan dan kelebihan serta memberinya kekuatan berpikir cemerlang yang dapat menebus segala medan untuk menundukkan unsur-unsur kekuatan alam kemanusiaan.
Dan yang menjadi salah satu objek yang menjadi kajian terpenting dalam “Ulum Al Qur’an” adalah permasalahan terkait dengan mukjizat. Sebagaimana diketahui bahwa Al Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, bahkan persoalan kemukjizatan Al Qur’an dari segi al-sirfah hingga sekarang masih menjadi perdebatan yang berkepanjangan para ahli teologi Islam dari kalangan mu’tazilah dan Ahlisunnah.[1]
Pembicaraan tentang kemujikzatan Qur’an juga merupakan satu macam mukjizat tersendiri, yang di dalamnya para penyelidik tidak bisa mencapai rahasia satu sisi dari padanya  sampai ia mendapatkan dibalik sisi itu sisi lain yang akan disingkapkan rahasia.kemukjizatannya oleh zaman. Demikianlah, persis sebagaimana dikatakan oleh ar-Rafi’i: “ Betapa serupa (bentuk pembicaraan) Qur’an dalam susunan kemukjizatannya dan kemukjizatan sussunanya dengan sistem alam, yang dikerumuni oleh para ulama dari segala arah serta diliputi dari segala sisinya. Segala sisi itu mereka jadikan obyek kajian dan penyelidikan, namun bagi mereka ia senantiasa tetap menjadi makhluk baru dan tempat tujuan yang jauh”[2]

a)        Definisi Mukjizat
1.         Menurut bahasa kata mu’jizat berasal dari kata i’jaz yang terambil dari kata kerja a’jaza-i’jaza yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Peakunya (yang melemahkan) dinamai mu’jiz. Bila kemampuan melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, ia dinamai mu;jizat. Sedangkan menurut istilah mu’jizat adalah peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang menaku nabi, sebagai bukti kenabiannya. Dengan redaksi yang berbeda,mukjizat didefinisikan pula sebagai suatu yang luar biasa yang diperlihatkan Allah SWT. Melalui para Nabi dan Rasul-Nya sebagai bukti atas ketenarannya pengakuanj nabi dan kerasulannya [3]
2.         Menurut arti bahasa arab, Mukjizat berarti “ yang melemahkan “ sedangkan menurut istilah agama, Mukjizat itu ialah : “ sesuatu yang dapat melemahkan “lawan” atau mengalahkan kecerdikan dan kekuatan “musuh” , karena keadaannya sangat menyalahi adat kebiasaan yang telah ada. Melemahkan kekuatan lawan, baik lahir maupun batin, baik mengimbanginnya, menyerupai dan bahkan menolaknya”.[4]
3.         Menurut bahasa kata “ mu’jizah” berasal dari kata “ajz” (lemah), kebalikan dari kata “qudrah” (kuasa). Pada dasarnya Mu’jiz itu adalah Allah SWT., yang menyebabkan selain-Nya juga adalah Zat Allah SWT., karena ia sebagai penguasa mereka. Sebagai bentuk Mubalaghah (penegasan) kebenaran berita, mengenai betapa lemahnya orang-orang yang didatangi Rasul untuk menentang Mu’jiz tersebut maka huruf “ta” marbbuthah ditambahkan kepada kata “mu’jiz” sehingga menjadi “mu’jizah”. Bentuk mubalagah ini terjadi misalnya pada kata, “allamah”,“nassabah” dan “rawiyah”. Menurut para Muttakallimin (teolog), mukjizat ialahmunculnya sesuatu hal yang berbeda dengan adat kebiasaan yang terjadi di dunia (dar al-taklif) untuk menunjukan kebenaran kenabian (nubuwwah) para Nabi[5].
4.         Maka mukjizat diartikan sebagai suatu perkara yang berada diluar jangkauan kebiasaan, dan diluar sebab-sebab yang diketahui oleh manusia. Dan mukjizat itu melumpuhkan kemampuan yang pernah dilihat manusia  pada tahun-tahun sebelumnya[6].
5.         Mukjizat adalah suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku Nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu (Quraish Shihab, 1998: 23)
6.         Ketidakmampuan ini semata-mata diluar jangkauan manusia (Hafni M. Syaraf, 1970: 7)

Kata i’jaz dalam bahasa Arab berarti menganggap lemah kepada orang lain, sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S Al-Maidah ([5]:31)

Artinya :
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.[7]

Al-Quran ialah mukjizat abadi Nabi Muhammad SAW, yang dengannya seluruh manusia dan jin ditantang untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran tersebut,sebuah yang sama dengan surat yang ada didalamnya. Para ahli balaghah dan para ahli bahasa Arab diantara mereka ternyata tidak mampu membuat sebuah surat pun yang serupa dengan surat yang ada di dalam Al-Quran sehingga akhirnya mereka menggunakan kekuatan dengan berupaya memerangi Rasulullah, menawarkan jabatan dan harta kepada beliau,  bukan membuat sebuah surat yang serupa dengan Al-Quran. Allah SWT. Didalam kitab-Nya menjelaskan bahwa Al-Quran merupakan mukjizat :  


Q.S Al-Ankabut ([29]:50-51)
Artinya :
Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata".
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman[8].
Dengan penjelasan ini, Allah SWT. Menegaskan bahwa Al-Quran merupakan ayat yang terang dan mukjizat yang cukup bagi manusia
Mukjizat Al-Quran adalah mukjizat intelektual yang sangat cocok dengan fakta bahwa pesan Islam ditujukan untuk seluruh umat manusia selamanya. Oleh karena itu, secara fundamental Al-Qur’an tidak akan pernah bisa dipalsukan oleh semua ilmu pengetahuan dan budaya manapun. Mukjizat dari agama ini pada dasarnya akan terkuak sesuai dengan tingkat kecerdasan manusia. Keontentikan Al-Qur’an tidak akan pernah bisa dihilangkan atau diganti baik oleh tempat maupun waktu. [9]
Al-Qur’an itu sendiri mengemukakan dasar- dasar pokok yang merupakan pegangan bagi para pembuat hukum. Al-Qur’an tidak membawa dalil-dalil yang mendetail (terperimci) yang apabila cocok pada suatu masa, maka tidak akan cocok pada masa yang lain. Tapi dengan dasarr-dasar pokoknya,maka Al-Quran berlaku sepanjang waktu dan tempat
Begitu pula Al-Qur’an tidak akan habis-habisnya ditafsirkan karena Al-Quran mengandung keajaiban-keajaiban-keajaiban kalimat, huruf-huruf dan surat-suratnya.
b)   Unsur-unsur Mukjizat
Menurut Manna al-Qathtan (1994:259) unsur mukjizat ada empat antaralain: hal yang luar biasa, Nabi, tantangan, dan tidak tertandingi. Al-Shabuni (1985: 101) menambahkan satu unsur lagi, yaitu kekuasaan Allah SWT. Bagi Daud al-Aththar (1994: 51), unsur-unsur mukjizat adalah ketidakmampuan orang lain untuk menandinginnya; ia melanggar hukum-hukum alam; ia bukan mustahil secara akal dan ia berlaku untuk menguatkan klaim perutusan Ilahi[10].










BAB II
Ukuran Kemukjizatan Al-Qur’an

A.  Tujuan mukjizat Al-Qur’an adalah :
1.    Membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW yang membawa mukjizat kitab Al-Qur’an itu adalah benar-benar seorang Nabi/Rasul Allah.
2.    Membuktikan bahwa kitab Al-Qur’an benar-benar wahyu Allah SWT, bukan buatan malaikat Jibril dan bukan tulisan Nabi Muhammad SAW.
3.    Menunjukkan kelemahan mutu sastra bahasa manusia, karena terbukti pakar-pakar pujangga sastra dan seni bahasa Arab tidak ada yang mampu mendatangkan kitab yang sama seperti al-Qur’an.
4.    Menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayas umat manusia yang tidak sebanding dengan keangkuhan dan kesombangan (Quraish Shihahb,1998:35-36)[11].

B.  Segi-Segi Kemukjizatan Al-Qur’an
Para ulama  sangat kesulitan dalam membeberkan keseluruhan mukjizat yang ada didalamnya. Oleh karenanya, kemukjizatan Al-Qur’an dibedakan dalam bidang bidang :
1.    Berita-berita kebenaran di masa yang akan datang
2.    Bidang Kesusastraan
3.    Bidang Tasyrie’: penentuan hukum, sosial maupun jinaya (kesalahan)
4.    Bidang Keilmuan[12]

AL-Qur’an al-Karim digunakan Nabi untuk menantang orang-orang Arab tetapi mereka tidak sanggup menghadapinya, padahal mereka sedimikian tinggi tingkat fasahah dan balagah-Nya. Hal ini tiada lain karena Al-Qur’an adalah mukjzat. 
Rasulullah telah meminta orang Arab menandingi Al-Qur’an dalam tiga tahapan:
1)             Menantang mereka dengan seluruh Al-Qur’an dalam uslub umum yang meliputi orang Arab sendiri dan orang lain, manusia dan jin, dengan tantangan yang mengalahkan kemampuan mereka secara padu melalui firman-Nya:

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa  Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".(al-Isra’ [11]:88)

2)             Menantang mereka dengan sepuluh surat saja dari Al- Qur’an dalam firman-Nya:

“ ataukah mereka mengatakan : ‘ Muhammad telah membuat buat Al-Qur’an itu. ‘ katakanlah: ‘(jika demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’ Jika mereka (yang kamu seru itu ) tidak menerima seruanmu itu,                                 ketauhilah, sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah.” (Hud[ 11]:13-14)

3)             Menantang mereka dengan satu surat saja dari Al-Qur’an dalam firman-Nya:

“atau (patutkah) mereka mengatakan, ‘ Muhammad membuat-buatnya.’Katakanlah: ‘(kalau benar yang kamu katakan itu), cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya.’” (Yunus (10):38). Tantangan ini diulangi lagi dalam firman-Nya:

          “Dan jika kamu (tetap) dalam keadaan ragu tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu....”(al-baqarah[2 ]:23)[13]

Dari tiga tahapan tersebut dapat disimpulkan bahwa Allah SWT adalah Maha Mengetahui tak satupun makhluk-Nya yang memenuhi tantangan diatas



C.  Aspek-aspek Kemukjizatan Al-Qur’an
Kelahiran ilmu kalam didalam Islam mempunyai implikasi yang  lebih tepat untuk dikatakan sebagai kalam di dalam kalam. Percikan pemikiran yang ada di dalamnya menarik pegikutnya ke dalam pembicaraan yang bertumpang tindih, sebagiannya berada di atas sebagian yang lain. Tragedi tokoh-tokoh ilmu kalam ini mulai tampak ketika membicarakan kemukjizatan Al-Qur’an. Maka pendapat dan pandangan mereka tentang kemukjizatan Al-Qur’an pun berbeda-beda dan beagam.
1)        Abu Ishaq Ibrahiman-Nizamdan pengikutnya dari kaum Syi’ah seperti al-Murtada berpendapat, kemukjizatan  Al- Qur’an adalah dengan cara sirfah (pemalingan). Arti sirah dalam pandangan an-Nizam ialah, bahwa Allah memalingkan orang-orang Arab untuk menantang Al-Qur’an padahal, sebenarnya, mereka mamp menghadapinya. Maka pemalingan inilah yang luar biasa (mukjizat). Sedang sirfah menurut pandangan al-Murtada adalah bahwa Allah telah mencabut dari mereka ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menghadapi Al-Qur’an agar mereka tidak mampu membuat seperti Al-Qur’an. Pendapat ini menunjukkan kelemahan pemiliknya itu sendiri. Sebab tidak akan dikatakan terhadap orang yang dicabut kemampuannya untuk berbuat sesuatu, bahwa sesuatu itu telah membuatnya lemah selama ia masih memunyai kesanggupan untuk melakukannya pada suatu waktu. Akan tetapi yang melemahkan (mu’jiz) adalah kekuasaan Allah SWT, dan dengan demikian Al-Qur’an bukanlah mukjizat. Padahal pembicaraan kita tentang kemukjizatan Al-Quran bukan kemukjizatn Allah, akan tetapi ada sepanjang masa. Berkata Qadi Abu Bakar al-Baqalani: ‘ salah sesuatu hal yang membatalkan pendapat sirfah ialah, kaulah menandingi Al-Qur’an itu mungkin tetapi mereka dihalangi oleh sirfah, maka kalam Allah itu tidak mukjizat, melainkan sirfah itulah yang mukjizat. Dengan demikian, kalam tersebut tidak mempunyai kelebihan apapun atas kalam yang lan.’
2)       Satu golongan ulama berpendapat, Al-Qur’an  itu mukjizat dengan balagah-nya yang mencapai tingkat tinggi dan tidak ada bandinganya. Ini adalah pendapat ahli bahas Arab yang gemar akan benttuk-bentuk makna yang hidup dalam untaian kata-kata yng terjalin kokoh dan retorika yang menarik.
3)      Sebagian mereka berpendapat, segi kemukjiztan Al-Qur’an itu ialah karena ia mengandung badi’ yang sangat unik dan berbeda dengan apa yang telah dikenal dalam perkataan orang Arab, seperti fasilah dan maqta’
4)    Golongan lain berpendapat, kemukjizatan Al-Qur’an itu terletak pada pemberitaannya tentang hal-hal ghaib yang akan datang yang tak dapat diketahui kecuali dengan wahyu, dan pada pemberitaanya tentang hal-hal yang sudah terjadi sejak masa penciptaan makhluk, yang tidak mungkin dapat diterangkan oleh seorang ummi yang tidak pernah berhubungan dengan ahli kitab. Misalnya firman  Allah tentang penduduk Badar:
“ Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ku belakang.” (al-Qamar [54]:45)
“ Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya” (al-Fath[48]:27) 
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumu” (an-Nur [24]:5)
“ Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang.” (ar-Rum [30]:1-3)
“ Itu adalah di antara beita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini”. (Hud[11]:49), dan kisah orang-orang terdahulu lainnya.
Pendapat golongan diatas tidak dapat diterima (mardud), sebab ia menuntut ayat-ayat yang tidak mengandung berita tentang ha-hal ghaib yang akan datang dan yang telahlalu, tidak mngandung mukjizat. Dan ini adalah batil, sebab Allah telah menjadikan setiap surat sebagai mukjizat tersendiri.
5)      Satu golongan berpendapat, Al-Qur’an itu mukjizat karena ia mengandung bermacam-macam ilmu dan hikmah yang sangat dalam. Dan masih banyak lagi aspek-aspek kemukjizatan lainnya yang berkisar pada sekitar tema-tema di atas, sebagaimana telah dihimpun oleh sebagaian ulama, mencapai sepuluh aspek atau lebih
Pada hakikatnya, Al-Qur’an itu mukjizat dengan segala makna yang dibawakan dan dikandung  oleh lafaz-lafaznya
Ia mukjizat dalam lafaz-lafaz dan uslubnya. Satu huruf daripadanya yang berada di tempatnya merupakan suatu mukjizat yang diperlukan ole lainnya dalam ikatan kata, satu kata yang berada di tempatnya juga merupakan mukjizat dalam ikatan kalimat, dan satu kalimat yang ada di tempatnya pun merupakan mukjizat dalam jalinan surat.
Ia mukjizat dalam hal bayan (penjelasan,retorika) dan nazam (jalinan)-nya. Di dalamnya seorang pembaca akan menemukan gambaran hidup bagi kehidupan, alam dan manusia. Ia adalah mukjizat dalam makna-maknanya yang telah menyingkapkan tabir hakikat kemanusiaan dan misinya di dalam kosmos ini.
Ia mukjizat dengan segala ilmu dan pengetahuan yang sebagian besar hakikatnya yang ghaib telah diakui  dan dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern.
Ia adalah mukjizat dalam tasyri’ dan pemeliharannya terhadap hak-hak asasi manusia serta dalam pembentukan masyarakat teladan yang di tangannya dunia akan berbahagia.
 Al-Qur’an, seluruhnya, itulah yang membuat orang Arab yang semula hanya penggembala domba dan kambing, menjadi pemimpin bangsa-bangsa dan panutan umat. Dan ini sudah cukup menjadi bukti mukjizat[14]

Dapat disimpulkan :
1)   Kemukjizatan Al-Qur’an dari segi bahasa
a)    Para ahli sastra Arab tidak mampu menciptakan karya tulis yang dapat menandingi kenilaian sastra Al-Qur’an baik dari sisi gaya bahasanya maupun susunanya.
b)   Satu huruf Al-Qur’an memiliki kedudukan tersendiri dalam memperindah bangunan suatu kata.
c)    Begitu pula satu kata memiliki kedudukan tersendiri dalam memperindah susunan kalimat dan konteks ayat secara umum.

2)             Kemukjizatan Al-Qur’an ilmiah (sains)
Al-Qur’an pada dasarnya merupakan kitab suci yang memberikan petunjuk bagi umat manusia. I’jaz Al-Qur’an dari sisi ilmu pengetahuan bukan karena ia memuat teori-teori ilmiah yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman, layaknya buah karya manusia dari suatu penelitian dan studi. Tetapi karena Al-Qur’an mendorong untuk berpikir dan melakukan penelitian dalam berbgai bidang dengan memberikan petunjuk-petunjuk hingg ilmiah. Sehingga manusia dapat memahami serta membuka jalan untuk menyingkap rahasia alam semesta. Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar sekali terhadap ilmu pengetahuan karena hal ini dapat mengantarkan manusia untuk mengenal Allah SWT.
3)   Kemukjizatan Al-Qur’an dalam bidang hukum
Al-Qur’an banyak mengandung aturan-aturan hukum yang sebagian besarnya masih serupa pokok-pokok hukum secara garis besar namun ada pula yang diterangkan secara detail bagi kepentingan individu, masyarakat maupun negara. Orang yang mengamati ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik akan mendapati bahwa Al-Qur’an mengandung aturan-aturan yang sangat sempurna dalam segala bidang dan aspek kehidupan manusia yang sesuai dengan fithrah dan perkembangannya.[15]


           


                                                                                           


BAB III
Keistimewaan Al-Qur’an dibanding Mukjizat Semua Nabi Sebelum Nabi Muhammad SAW

Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat yang berbeda dengan mukjizat-mukjizat para rosul sebelum rasulullah na mukjizat para Rosul Muhammad SAW, karena mukjizat para rasul sebelumnya berakhir dengan wafatnya para rasul tersebut, sedangkan Al-Qur’an adalah mukjizat yang kekal abadi untuk selamanya, tidak akan musnah bersamaan dengan wafatnya seorang rasul yangmenerimanya, sebagaimana Al-Qur’an merupakan atau berisi kisah tentang keadaan (kondisi) para rasul terdahulu. Al-Qur’an adalah mukjizat yang  memberikan banyak peluang bagi akal fikiran dan hati, dia juga memberi khitab kepada fitrah manusia sepanjang masa dan tempat.[16]
            Bahkan, Al-Qur’an dianggap sebagai mukjizat yang lebih agung dari pada mukjizat-mukjizat sebelumya:
            Bukti mukjizat yang paling agung, paling mulia dan paling nyata adalah Al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi kita Muhammad SAW. Sebab, peristiwa-peristiwa ajaib menyalahi adat kebiasaan, pada umumnya, terpisah (berbeda) dari wahyu yang diterima oleh nabi. Mukjizat didatangkan sebagai saksi akan kebenarannya. Al-Qur’an sendiri mengklaim sebagai wahyu. Ia peristiwa ajaib menjadi mukjizat. Buktinya adalah dirinya sendiri. Ia tidak membutuhkan bukti lain diluar dirinya seperti mukjizat-mukjizat lain dalam kaitannya dengan wahyu. Oleh karena itu, ia merupakan bukti yang paling nyata, karena antara bukti (dalil) dengan yang dibuktikan (madlul) yang menyatu. Inilah pengertian dari sabda Nabi SAW: “Setiap nabi diberi tanda-tanda yang dipercayai manusia. Sementara yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diturunkan kepadaku. Oleh karena itu, aku berharap bahwa aku memiliki pengikut paling banyak di hari kiamat nanti”. Sabda tersebut menunjudkkan bahwa apabila kedudukan mukjizat sedemikian jelas dan kuat buktinya, karena mukjizat tersebut wahyu itu sendiri, maka kebenarannya jauh lebih banyak karena begitu jelasnya sehingga orang yang membenarkan dan mempercayainya, sebagai pengikut dan umat, juga banyak.(Ibnu Khaldun)
            Apa yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun tentang “ kesatuan dalil dan madlul” diatas, dalam bahasa yang lain dapat dikatakan bahwa kebenaran wahyu tidak memperlukan bukti lain diluar dirinya, justru dia sendirilah yang membuat bukti kebenarannya itu. Jika dakwah-dakwah dan misi-misi sebelum Islam memerlukan bukti yang menegaskan kebenaran wahyu, bukti eksternal ryang mencerminkan terjadinya keajaiban dari diri nabi, maka dakwah dan misi islam tidak tidak memerlukan bukti eksternal semacam itu. Kita patut bertanya, mengapa wahyu Islam menempati kedudukan seperti itu, berbeda dari wahyu-wahyu sebelumnya, yang antara dalil dan madlul-nya terpisah dan memerlukan dalil eksternal untuk menegaskan kebenarannya?
            Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekali lagi kita kembali persoalan hubungan teks dengan kebudayaan, bukan saja dalam konteks wahyu Islam saja, tetapi juga dalam konteks wahyu-wahyu sebelumnya. Mukjizat, dalam konteks wahyu, tidak menyimpang dari batas-batas kerangka yang menjadi karakteristik kebudayaan dimana wahyu tersebut diturunkan. Oleh karena itu, mukjizat Nabi Isa a.s aalah menyembuhkan penyakit dan menghidupkan kembali orang yang telah meninggal karena karakteristik kebudayaan unggul di dalam ilmu kedokteran. Oleh karena kaum Nabi Musa a.s memiliki keunggulan dala masalah sihir maka mukjizat Musa pun sejenis dengan kepandaian kaumnya. Oleh karena bangsa Arab, dimana Al-Qur’an diturunkan memiliki keunggulan dalam puisi, maka mukjizat yang diberikan berupa teks bahasa yang merupakan teks wahyu itu sendiri[17].
Berulang kali, saat orang-orang yang sinis dan ingkar menuntut suatu mukjizat, Nabi Muhammad selalu menunjukkan Al-Qur’an –Risalah dari Yang Maha Tinggi sebagai mukjizat. Mukjizat dari segala mukjizat.
Orang-orang yang bijak, orang-orang yang mempelajari Al-Kitab, yang mempunyai wawasan spiritual mendalam; yang cukup jujur terhadap diri sendiri, akan mengenal dan menerima Al-Qur’an sebagai mukjizat sejati. Al-Qur’an menyatakan:

         
Artinya :
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”[18]
(Q.S Al-Ankabut[29]:49).



















BAB IV
Kesimpulan
Dari makalah diatas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah Mukjizat terbesar yang diberikan Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. Kita patut tahu bahwa Allah SWT memberikan Mukjizat kepada Nabi untuk meyakinkan kepada semua manusia yang ragu dan meyakinkan manusia yang tidak percaya terhadap pesan atau misi yang dilakukan oleh Nabi.
Demikian makalah yang dapat saya sampaikan, mohon maaf apabila ada salah dalam penulisan dan pembuatan makalah ini. Kritik dan saran saya harapkan untuk penulisan makalah berikutnya.












Daftar Pustaka
Ahmad, Yusuf Al-Hajj. 2016. Mukjizat Al-Qur’an Yang         Tak Terbantahkan. (Solo: Aqwam)
Al-Qahtan, Manna Khalil oleh Mudzakir A.S. 2009.             Studi Ilmu–Ilmu Qur’an. (Bogor: Halim Jaya)
An-Najdi, Abu Zahra’ oleh Jalaluddin Rahmat. 1990. Al-     Qur’an dan Rahasia Angka–Angka. (Bandung:             Pustaka            Hidayah)
Aziz, Moh Ali. 2019. Mengenal Tuntas Al-Qur'an                 . (Surabaya: Imtiyaz)
Deedat Ahmed oleh Nurrudin Prihartono dan Tim. 1996.     Al-Qur’an Mu’jizat dari Segala Mu’jizat.             (Yogyakarta:   Titian Illahi Press)
Eldeeb Ibrahim oleh Masyru’uk Al Kashr Ma’a Al-  Qur’an. 2009. Be A Living Qur’an. (Jakarta: Lentera             Hati)
Hamid Nast Abu Zaid. 1993. Tekstualitas Al-Qur’an. (Yogyakarta: IRCISOD)
Hamid Shalahudin. Study Ulumul Qur’an. (Jakarta:              Intimedia Ciptanusantara), t.t.                      
Iqbal, Mashuri Sirojuddin. 1994. Pengantar Ilmu Tafsir.       (Bandung: Bandung Angkasa).
Tim Penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya. 2011      Bahan Ajar Studi Al-Qur’an. (Surabaya:UIN             Sunan Ampel Press)



[1] Tim Penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya,bahan Ajar Studi Al-Qur’an,Surabaya,UIN Sunan Ampel Press,2017,Cet ke 7,hlm111

[2] Manna Khalil al-Qattan oleh Mudzakir AS, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an,Bogor,Halim jaya,2009,cet.13,hal369
[3] Tim Penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya,bahan Ajar Studi Al-Qur’an,Surabaya,UIN Sunan Ampel Press,2017,Cet ke 7,hlm112
[3] Manna Khalil al-Qattan oleh Mudzakir AS, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an,Bogor,Halim jaya,2009,cet.13,hal369
[4] Mashuri Sirojuddin Iqbal,  Pengantar Ilmu Tafsir, Bandung, Angkasa Bandung, 1994, Hlm 285
[5] Abu Zahra’ An-Najdi oleh Jalaluddin Rahmat ,Al-qur’an dan Rahasia Angka-Angka,Bandung,Pustaka H idayah,1990,Hlm17
[6] Shalahudin Hamid, Study Ulumul Qur’an, Jakarta, Intimedia Ciptanusantara, Hlm169
[7] Tim Penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya,bahan Ajar Studi Al-Qur’an,Surabaya,UIN Sunan Ampel Press,2017,Cet ke 7,hlm112-113

[8] Abu Zahra’ An-Najdi,Al-qur’an dan Rahasia Angka-Angka,Bandung,Pustaka Hidayah,1990,Hlm17-18

[9] Yusuf Al-Hajj Ahmad, Mukjizat Al-Qur’an Yang Tak Terbantahkan, Solo, Aqwam,2016,Cet ke 1,Hlm 45
[10] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, Surabaya, Imtiyaz, 2019,Cet ke4, Hlm14
[11] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, Surabaya, Imtiyaz, 2019,Cet ke4, Hlm14-15
[12] Shalahudin Hamid, Study Ulumul Qur’an, Jakarta, Intimedia Ciptanusantara, Hlm170

[13] Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an,Bogor,Halim jaya,2009,cet.13,hal371-372
[14] Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an,Bogor,Halim jaya,2009,cet.13,hal374-377

[15] Ibrahim Eldeeb oleh Masru’uk al-Kash mu’al, Be A Living Qur’an, Jakarta, Lentera Hati, 2009, Cet ke 1, Hlm49
[16] Tim Penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya,bahan Ajar Studi Al-Qur’an,Surabaya,UIN Sunan Ampel Press,2017,Cet ke 7,hlm1113

[17] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur’an, Yogyakarta, IRCiSoD, 1993, cet ke 1, Hlm 167-169
[18] Ahmed Deedat oleh Nuruddin Prihartono dan Tim, Al-Qur’an Al-Qur’an Mukjizat dari segala mukjizat, Yogyakarta, Titian Ilahi Press,1996,Cet 1, Hlm 24